MENYIKAPI PERBEDAAN IDUL ADHA 1436 H

MENYIKAPI PERBEDAAN IDUL ADHA 1436 H

Ketika Berbeda, Tengoklah Arafah

Oleh: Agus Mustofa *

Perayaan Idul Adha tahun ini dipastikan berbeda. Muhammadiyah, jauh-jauh hari sudah mengumumkan hari raya Idul Adha jatuh pada Rabu, 23 September. Sedangkan pemerintah, melalui sidang isbat (13/9) mengumumkan Idul Adha dilaksanakan pada hari Kamis, 24 September 2015. Dan Nahdhatul Ulama (NU) berdasar pada rukyatnya menetapkan idul Adha sama  dengan pemerintah.

Meskipun reaksi masyarakat tidak seheboh tahun-tahun lalu, umat masih terus bertanya-tanya kenapa perbedaan ini masih terus terjadi. Dan yang lebih penting lagi, bagaimana seharusnya perbedaan ini bisa diselesaikan secara mendasar sehingga berlaku permanen dalam jangka panjang. Ketika perbedaan kriteria secara akademik masih belum juga bisa disamakan, maka kembali mengacu kepada Sunnah Rasulullah SAW adalah jalan yang terbaik.

Suatu ketika Rasulullah ditanya tentang pelaksanaan puasa Arafah dan hari raya Idul Adha, beliau memberikan jawaban sebagai berikut. “Berbuka kalian adalah di hari kalian berbuka, penyembelihan kalian adalah di hari kalian menyembelih, dan Arafah kalian adalah di HARI kalian melakukan WUKUF di Padang Arafah” [Diriwayatkan oleh Asy-Syaafi’iy dalam Al-Umm 1/230 dan Al-Baihaqiy 5/176; shahih dari ‘Athaa’ secara mursal. Lihat Shahiihul-Jaami’ no. 4224].

Point penting hadits di atas terkait dengan apa yang sedang kita bahas adalah menjadikan hari wukuf sebagai pedoman untuk melakukan puasa Arafah. Hal ini dipertegas oleh Lajnah Daimah alias Komite Fatwa dan Penelitian Ilmiah Arab Saudi. “Hari Arafah adalah hari dimana kaum muslimin melakukan wukuf di Arafah. Puasa Arafah dianjurkan, bagi orang yang tidak melakukan haji. Karena itu, jika Anda ingin puasa Arafah, maka Anda bisa melakukan puasa di hari itu (hari wukuf). Dan jika Anda puasa SEHARI SEBELUMNYA, tidak masalah (BOLEH)”. (Fatwa Lajnah Daimah, no. 4052)

Itulah sebabnya dalam sejumlah hadits diceritakan berkali-kali keterkaitan antara puasa Arafah dengan wukuf di Padang Arafah. Dari Ummul-Fadhl binti Al-Haarits : Bahwasannya orang-orang berdebat di sisinya pada hari ‘Arafah tentang puasa Nabi shallallaahu ‘alaihi wasalam. Sebagian mereka berkata : “Beliau berpuasa”. Sebagian lain berkata : “Beliau tidak berpuasa”. Lalu aku (Ummul-Fadhl) mengirimkan kepada beliau satu wadah yang berisi susu ketika beliau sedang wukuf di atas ontanya. Maka, beliau meminumnya”[HR. Bukhari no. 1988 dan Muslim no. 1123].

Selain itu At-Tirmidziy rahimahullah berkata: “Para ulama menyenangi puasa di hari ‘Arafah, kecuali jika berada di Arafah (melaksanakan wuquf haji)” [Sunan At-Tirmidziy, 2/116]. Dari berbagai hadits dan penjelasan di atas, tidak bisa dipungkiri bahwa Puasa Arafah terkait erat dengan pelaksanaan wukuf di Padang Arafah. Termasuk waktu penyembelihan kurban. Semua itu tidak terlepas dari ritual ibadah haji di tanah suci.

Dr-Sriyatin-dari-Al-Falakiyah-Surabaya-mencoba-peralatan-setelah-alignment.

Dr-Sriyatin-dari-Al-Falakiyah-Surabaya-mencoba-peralatan-setelah-alignment.

Lantas bagaimana menjelaskan catatan sejarah bahwa Rasulullah sudah berpuasa Arafah sebelum adanya wukuf di Arafah? Secara kaidah fikih tidak menjadi masalah, bahwa sesuatu yang dihukumkan paling akhir adalah menjadi penjelas dan penentu bagi hukum yang terdahulu. Jadi, bisa saja awalnya puasa Arafah itu tidak terkait dengan tempat dan peristiwa wukuf, tetapi di akhir-akhir masa kenabian Rasulullah menegaskan – agar tidak terjadi perselisihan – bahwa hari Arafah adalah hari dimana jamaah haji sedang wukuf di Arafah. Dan sunnah yang terakhir inilah yang semestinya diikuti oleh umat Islam di seluruh dunia.

Lantas, bagaimana dengan wilayah-wilayah yang berjauhan dengan Mekah? Rasulullah memerintahkan untuk mengikuti keputusan penguasa Mekah, meskipun beliau tinggal di Madinah sebagai pusat pemerintahan waktu itu. Hal itu bisa disimpulkan dari hadits berikut ini.

Husain bin Al-Harts Al-Jadaliy pernah berkata : “Bahwasannya pemimpin kota Mekah pernah berkhutbah, lalu berkata : ‘Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasalam telah berpesan kepada kami agar kami (mulai) menyembelih berdasarkan rukyat. Jika kami tidak melihatnya, namun dua orang saksi ‘adil menyaksikan (hilal), maka kami mulai menyembelih berdasarkan persaksian mereka berdua….” [Diriwayatkan oleh Abu Dawud no. 2338; shahih].

Hadits tersebut menunjukkan kepada kita bahwa Rasulullah yang berdiam di kota Madinah memerintahkan kepada penguasa kota Mekah untuk melakukan rukyat sebagai rujukan penetapan datangnya Idul Adha. Padahal kota Madinah saat itu berjarak sekitar beberapa hari perjalanan naik kuda. Tidak menjadi masalah. Karena sesungguhnya, seluruh peribadatan yang terkait dengan Idul Adha dan puasa Arafah harus mengacu kepada peristiwa haji di kota Mekah.

Bisa dibayangkan, jika saat itu Rasululah memerintahkan agar setiap kota dimana umat Islam berada mengadakan sendiri idul adha dan puasanya – padahal pemimpinnya satu yaitu Rasulullah – maka umat Islam akan menjadi terkotak-kotak seperti sekarang ini. Nabi tidak melakukan pengkotak-kotakan itu, melainkan memerintahkan agar semuanya mengacu ke kota Mekah sebagai lokasi penyelenggaraan haji. Wallahu’alam bishshawab.

(Penulis Best Seller Buku-buku Tasawuf Modern, dan Inisiator Astrofotografi Indonesia. agusmustofa_63@yahoo.com).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s